Saatini, sosok kiai tawadhu ini menjabat sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Beliau juga pernah menjadi anggota tim Ahwa pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 di Jombang. Menurut informasi dari asisten KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Ustadz Amin Zein, KH Nawawi Abdul Jalil wafat pada Ahad, 13 Juni 2021 sekitar pukul 16.40 WIB.
Belummendapatkan ilmu dan nasehat saja, hati terasa bahagia apalagi kalau sudah mendapatkan ilmu dari Habib Anis, cucu Habib Ali penyusun Maulid Simtut Duror ini.. Mudhoffar dan beliau menerima dari Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan. Menurut buku biografi beliau "Percik-percik keteladan Kiai Hamid Pasuruan." diterangkan beliau
KBRN Pontianak : Mengisi waktu setelah Konferwil PWNU Kalbar dinyatakan diundur oleh PBNU, Andi Syafrani melakukan wisata dan ziarah ke Provinsi Jawa Timur (10/7/2022). Bersama istri dan anak-anaknya, Syafrani melakukan perjalanan ke Jawa Timur, yakni ke Malang, Pasuruan, hingga Jombang. Awalnya
MasPesantren Sidoresmo (KH ke Mekah (KH Mansyur Muhammad Thoha) Surabaya Makhfudz) (1936 - 1942) Pesantren Demangan (KH Kholil), Universitas Al- bangkalan Azhar Kairo 5 Ki Bagus Pesantren Wonokromo Yogyakarta Hadikusumo (1942-1953) 3.1.2 Periode Kedua (1953-1990) Kepemimpinan Muhammadiyah pada periode kedua (1953-1990), dicirikan pada
Foto: Keluarga Pesantren Asshidiqi Glenmore) Almaghfurlah KH Achmad Qusyairi dan KH Abdul Hamid Pasuruan. (Foto: Keluarga Pesantren Asshidiqi Glenmore) (Foto: Keluarga Pesantren Asshidiqi Glenmore) KH Achmad Qusyairi, lahir di dukuh Sumbergirang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah pada 11 Sya'ban 1311 H atau bertepatan pada 17 Februari 1894 M
Setelahacara di Malang usai, KH. Ahmad Djazuli bermaksud melanjutkan perjalanan ke Pasuruan untuk bertamu kepada KH. Abdul Hamid. Hal ini membuat KH. Fu'ad Mun'im merasa khawatir, karena uang bekal perjalanan sudah habis. Saat hendak berangkat, KH. Fu'ad Mun'im mengutarakan kehawatirannya pada sang ayahanda, "Ngapunten, Abah! Sangune sampun
SayidSulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Amalan Bertemu Nabi Khidir Dari KH. Abdul Hamid Pasuruan Jul 23, 2020 - Advertisement - Portal Majalah Ibadah is an accurate and powerful News Portal, Magazine
Pasuruanl KH Gus Muhamad Lukman cucu dari (alm) KH Abdul Hamid atau mbah Hamid yang kondang dipanggil KH Hamid Pasuruhan adalah tokoh ulama pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, beliau adalah Gus Muhamad Lukman cucu KH Hamid Pasuruan, mengabdikan dirinya dalam pengembangan agama Islam dan juga memiliki rasa kepeduliannya sangat luar biasa kepada masyarakat di jawa
PengasuhPondok Pesantren Salafiyah dan Bayt Al Hikmah Pasuruan KH M Idris Hamid mengeluarkan sebuah maklumat terkait pemilihan Gubernur Jawa Timur (Jatim) mendatang. Khofifah Ziarah ke Makam KH Abdul Muchith Muzadi di Jember. 7 Juni 2018, 21:14:26 WIB. Cucu Pendiri NU Kawal Pemenangan Gus Ipul-Puti. 9 Mei 2018, 15:17:08 WIB.
GusAbdul Aziz, cucu KH Abdul Hamid Pasuruan (kanan) bersama Gus Baha' di satu kesempatan. Tidak terasa, umat Islam sudah di penghujung bulan Sya'ban. Berarti tinggal menghitung hari memasuki bulan suci Ramadhan. Salah satu yang harus dilakukan oleh umat muslim adalah memulai menata niat dan membersihkan penyakit-penyakit yang masih
BKjLP. Hari ini, haul ke-39 almaghfurlah KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar Mbah Hamid Pasuruan digelar. Sebagai bentuk rasa takdzim dan berharap kebaikan almaghfurlah, pesarean Mbah Hamid yang berada di tengah Kota Pasuruan tidak pernah sepi dari peziarah. Tidak sedikit santri dan sejumlah kalangan yang kini menjadi orang penting, ternyata berkesempatan bertemu fisik dengan almaghfurlah ini. Tentu saja, sejumlah kisah dan pengalaman mengiringi dari perjumpaan tersebut. KH Abdul Hamid lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah dan wafat 25 Desember 1985. Melewati pendidikan di Pesantren Talangsari, Jember, Pesantren Kasingan, Rembang, Jateng, Pesantren Tremas, Pacitan hingga menjadi pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan. Kesabarannya memang diakui tidak hanya oleh para santri, tapi juga oleh keluarga dan masyarakat serta umat Islam yang pernah mengenalnya. Sangat jarang dilihat marah, baik kepada santri maupun kepada anak dan istrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari tua, khususnya setelah menikah, sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya di masa muda. Kiai Hamid adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya saudara seibu. Hamid kecil dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember. Masa Kecil Kiai Shiddiq adalah ayah KH Machfudz Shiddiq, tokoh Nahdlatul Ulama, dan KH Ahmad Shiddiq, mantan Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya, dan pada umur sembilan tahunmendapat ilmu fiqh dasar. Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orang tua untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH Shiddiq, di Talangsari, Jember. Konon, Hamid muda sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa bakal menjadi wali dan ulama besar. Pada usia enam tahun bahkan dikisahkan sudah bertemu dengan Rasulullah. Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU, khususnya kaum sufi, Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orang-orang tertentu, khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tapi secara nyata. Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam legitimasi bagi kewalian seseorang. Hamid muda mulai mengaji fiqh dari ayahnya dan para ulama di Lasem. Pada usia 12 tahun, akhirnya berkelana. Mula-mula belajar di pesantren kakeknya, KH Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahun kemudian diajak sang kakek untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman serta bibinya. Tak lama kemudian pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan desa sekitarnya, Hamid belajar fiqh, hadits, tafsir dan lainnya. Pada usia 18 tahun, pindah lagi ke Pesantren Tremas, Pacitan. Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, KH Idris bahwa pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi. Pesantren yang diasuh Kiai Dimyathi itu telah melahirkan banyak ulama terkemuka, antara lain KH Ali Maâshum, mantan Rais Am PBNU. Dalam pandangan Kiai Idris, inilah pesantren yang telah banyak berperan dalam pembentukan bobot keilmuan Hamid muda. Di sana juga belajar berbagai ilmu keislaman. Sepulang dari pesantren itu, tinggal di Pasuruan, bersama orang tuanya. Di sini pun semangat keilmuannya tak pernah padam. Dengan tekun, setiap hari mengikuti pengajian Habib Jaâfar, ulama besar di Pasuruan saat itu, tentang ilmu tasawuf. Menjadi Blantik Hamid remaja menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri.. Kiai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari mengayuh sepeda sejauh 30 kilo meter pulang pergi, sebagai blantik sepeda. Sebab, kata Kiai ldris, pasar sepeda waktu itu ada di Desa Porong, Pasuruan, 30 kilo meter ke arah barat Kota Pasuruan. Kesabarannya bersama juga diuji. Nafisah yang dinikahkan oleh orang tuanya selama dua tahun tidak patut tidak mau akur. Namun Kiai Hamid menghadapi dengan tabah. Anak pertama, Anas telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu. Terutama bagi sang istri, Nyai Nafisah yang begitu gundah, sehingga Kiai Hamid merasa perlu mengajak istrinya ke Bali sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nyai Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan. Bahwa seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun. Tapi, kendati demikian hal itu tidak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetahui. Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak utowo keluarga, ndak endang munggah derajate orang tua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan. Kesabaran Kiai Hamid juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menurut Kiai Idris, mereka tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Kiai Hamid sangat tegas. Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajar menyingsing, guna menunaikan shalat Subuh, meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka, Kiai Hamid juga memberi pengajaran membaca al-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitu mereka menginjak remaja, Kiai Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain. Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Kiai Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya, Kiai Hamid seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dan diajarkan kepada istrinya. Dan lebih banyak, kata Kiai Idris, yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah al-Hidayah karya Imam Ghazali, âTampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,â jelas Kiai Idris. Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren Salafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu tertentu â misainya alat gramatika bahasa Arab atau fiqh, maka Persantren Salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik. Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santri shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri tertentu yang dipilih sendiri. Selain itu, khususnya di masa akhir kehidupannya, hanya mengajar sepekan sekali untuk umum. Mushala pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian selepas shalat Shubuh. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tapi juga Malang, Jember, bahkan Banyuwangi, termasuk Wali Kota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, Kiai Hamid hanya membaca beberapa baris dari kitab itu. Selebihnya adalah cerita tentang ulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufiannya bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah. Kiai Hamid gemar mengenakan baju dan bersorban serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. âBerpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,â katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu justru berusaha melawannya. Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Kiai Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi tirakat. Tetapi, istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Kiai Hamid memakan roti itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. âO, rupanya dia suka kulit roti,â pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar, lalu menyuguhkan kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa Aku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena aku tirakat,â ujarnya. Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H Abdul Hamid, orang kaya di Malang. Tapi, selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Kiai Hamid mengatakan akan menghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur menyenangkan orang lain seperti dianjurkan Nabi. Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga tidak merasa kecewa. Selain itu, selalu mendatangi undangan, di mana pun dan oleh siapa pun. Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran yang dipahami secara sederhana mengenai kepedulian sosial Islam terhadap kaum dluafa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Kiai Hamid memang bukan ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, dapat memperkirakan, sikap sosialnya bukan sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang egoistis, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Hal itu menunjukkan betapa ajaran sosial Islam sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya. Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, konon juga memberikan bantuan secara rutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anak. H Misykat yang mengabdi hingga Kiai Hamid wafat bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang Rp plus 10 kilogram beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama, Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri. Ditulis ulang dari Biografi KH Abdul Hamid Pasuruan Jawa Timur
Pasuruan l â KH Gus Muhamad Lukman cucu dari alm KH Abdul Hamid atau mbah Hamid yang kondang dipanggil KH Hamid Pasuruhan adalah tokoh ulama pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, beliau adalah Gus Muhamad Lukman cucu KH Hamid Pasuruan, mengabdikan dirinya dalam pengembangan agama Islam dan juga memiliki rasa kepeduliannya sangat luar biasa kepada masyarakat di jawa timur khususnya di tanah kelahirannya kabupaten petinggi pengurus NU di seantero jawa timur yang tak kenal dengan sosok seorang Kyai kharismatik yang masih muda bernama Gus Muhamad Lukman cucu KH Hamid Pasuruan, tentu sudah pasti sangat banyak sekali alim ulama yang mengenalnya pasalnya siapa pun yang memandanginya akan luluh dengan pancaran sinar kharismatik dan kewibawaannya sebagai tokoh ulama muda. Apalagi jika seorang sedang gundah hatinya, begitu mendekat dan melihat seyumanya serta berjabat tangan dengan Kyai Gus Muhamad Lukman langsung seketika sirna, kerena berjabat tangan alim ulama seperti dengan sosok Ulama muda KH Gus Muhamad Lukman dapat menghilangkan rasa ujub yang semula bersemayam dalam dada . â Sebab filosofi Gus Muhamad Lukman sebuah jabat tangan dengan sesama umat manusia mangandung arti persahabatan,,di dasari oleh rasa nasionalisme yang tinggi terhadap sesama anak bangsa demi menjaga ke utuhan NKRI ,begitu juga mencium tangan seorang guru alim ulama selain rasa hormat terhadap Kyai maupun seorang alim ulama juga dapat menentramkan hati laksana di tuntun dalam dekapan Rahman dan Rohim Ilahi Robbi.âDemikianlah sosok profil KH Gus Muhamad Lukman cucu KH Hamid pasuruan yang digambarkan oleh Haji Adi salah seorang warga nahdiyin NU di sampaikan kepada sejumlah awak media masa nasionalâ.Menurut Haji Adi warga nahdiyin yang merupakan sosok pejuang di saat pilpres dan juga menjadi salah satu ketua umum relawan Jokowi menegaskan bahwa ulama muda kharismatik KH Gus Muhamad Lukman merupakan cahaya terpendam calon pemimpin PBNU masa depan berasal dari Jawa Timur yan notabene tempat berdirinya sebuah organisasi ke agamaan terbesar di Indonesia yakni Nahdatul ualama NU.âOleh karena itu,maka bagi kami warga Nahdiyin asal jawa timur sudah sepatutnya untuk memperjuangkan calon pemimpin PBNU kedepan yakni sosok ulama muda kharismatik KH Gus Muhamad Lukman yang merupakan tokoh ulama potensial kader NU dari Jawa Timur,â pungkasnya. Totok Pos terkaitAjak Pelaku Usaha untuk Turunkan Jumlah Kasus StuntingPartai Garuda Wasdeni alias Bodong Siap Maju Bakal CalegEntaskan Stunting perlu Campur Tangan Pihak LainBuka Job Fair secara Resmi, Bupati Imron Salah Satu Cara tekan Angka PengangguranProgram Mubeng, Pemkab Cirebon bagikan Bantuan Rutilahu dan SembakoHari BPR-BPRS Nasional 2023, Bupati Imron BPR harus Memberikan Kontribusi Nyata kepada Masyarakat
ďťżKH. Abdul Hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa 25 Desember 1985. Beliau adalah Kyai asal Pasuruan Jawa Timur Sejak kecil sekitar 12-13 tahun, Ayahandanya mengirimkan ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Di pondok tersebut Hamid hanya mengeyam pendidikanya satu setengah tahun, kemudian beliau pindah ke Pondok Tremas, Pacitan, Pondok yang di asuh oleh KH. Dimyathi. KH Abdul Hamid adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudara kandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim, Lasem, dan Halimah. Sedang dari lima saudara seibunya, tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan Nashriyah, ketiganya di Pasuruan. Kyai Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember, Jawa Timur. Masa Kecil Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq, tokoh NU, dan KH. Ahmad Shiddiq, mantan Roâis Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun, ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar. Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua, untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur. Konon, demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah, Kiai Hamid sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar. Sehari-hari, Hamid kecil jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Bahkan, Hamid kecil bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi itu. Menjadi Blantik Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nuâman, H. Nasikh dan H. Idris. Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik broker sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan. Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut tidak mau akur. Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu. Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun. Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. âUwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnyaâ, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan. Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Hamid sangat tegas. Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajar menyingsing, guna menunaikan shalat subuh, meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka, Hamid juga memberi pengajaran membaca al-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitu mereka menginjak remaja, Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain. Baca juga âBiografi Kyai Maimun Zubair.â Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, ia mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya, ia seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dan diajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak, kata Idris, yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah al-Hidayah karya Imam Ghazali, âTampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,â jelasnya. Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren salafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu tertentu â misainya alat gramatika bahasa Arab atau fiqh, maka salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik. Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum. Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tapi juga kota-kota Malang, Jember, bahkan Banyuwangi, termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, ia hanya membaca beberapa baris dari kitab itu. Selebihnya adalah cerita-cerita tentang ulama-ulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufian Kiai Hamid bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Ia, konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotan-perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah. Baca juga âBiografi Gus Baha.â Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. âBerpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,â katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia selalu berusaha melawan nafsu. Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi tirakat. Tetapi, istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Hamid memakan roti itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. âO, rupanya dia suka kulit roti,â pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar, lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. âAku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena aku bertirakat,â ujarnya. Kisah Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid, orang kaya di Malang. Tapi, ia selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Hamid mengatakan, ia akan menghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur menyenangkan orang lain seperti dianjurkan Nabi. Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, ia selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain itu, ia selalu mendatangi undangan, di manapun dan oleh siapapun. Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran yang dipahami secara sederhana mengenai kepedulian sosial islam terhadap kaum dluâafa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Memang karikaturis â meminjam istilah Abdurrahman Wahid tentang sifatnya. Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, kita dapat memperkirakan, sikap sosial Kiai Hamid bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang âegoistisâ, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Kita mungkin dapat melihat, betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya meski tidak tuntas. Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, konon ia juga memberikan bantuannya secara rutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anaknya. H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal, bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang RP. plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama, Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri. Pengasuh Pondok Pesantren Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir pengasuh Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem. Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah. Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat. Hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru. Akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal. Berkat perkembangan pondok pesantren yang di asuh oleh beliau, akhirnya dipanggil âhajiâ lalu diakui sebagai âkiaiâ, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Jaâfar As-Segaf wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Pesantren beliau terkenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah KH. Abdul Hamid Bin Abdullah Bin Umar , Pasuruan Jawa Timur Indonesia Dalam sebuah ceramahnya Gus Baha pernah menyapaikan beliau adalah salah satu kyai yang ikhlas. Biografi Singkat Nama KH. Abdul HamidLahir 22 November 1914 4 Muharram 1333 HWafat 25 Desember 1985 9 Rabiul Awwal 1403 HIstri NafisahNama Ayah KH. Abdullah bin KH. UmarNama Ibu Nyai Raihanah binti KH. Shiddiq Pendidikan Pondok Pesantren Talangsari, Jember;Pesantren Kasingan, Rembang, Jateng;Pondok Pesantren Termas, Pacitan, pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan Sumber
kh hamid pasuruan. Nama KH. Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid Pasuruan begitu melegenda dalam bab kewalian. Ia dikenal dengan sosok waliyullah yang mempunyai banyak karomah. Kediamannya menjadi tempat berlabuh untuk mencari berkah, baik berkah keilmuan atau doa, serta petuah keagamaan yang diharapkan menjadi obat/ pelipur hati dari gundah gulana. Sosok tersebut dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan. Pendahuluan Gus Mus berkata, âKiai Hamid bukanlah Wali Tiban. Wali Tiban, kalau memang ada, tentulah kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidaklah demikian. Beliau dianggap wali secara Muttafaq alaihi.â Tentang kedalaman agamanya Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Mukti Ali mengatakan, âYang paling terkesan dalam diri Kiai Hamid adalah akhlaknya; penghargaannya kepada orang, kepada ilmu, kepada orang alim, ulama, dan juga tindak tanduknya.â Garis Keturunan Kiai Hamid Pasuruan dahulunya bernama Abdul Muâthi. Ia dilahirkan pada 1914 M/1333 H di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang Jawa Tengah Ia merupakan putra dari pasangan Kiai Abdullah dan Nyai Roihanah. Kedua orang tuanya ini, nasabnya bersambung dengan Sayyid Syambu Lasem. Untuk nasab jalur ayahnya yaitu, Abdul Muâthi ibn Abdullah ibn Umar ibn Arabi ibn Muhammad ibn Ahmad Jamal ibn Abdul Adzim ibn Sayyid Abdurrahman Eyang Syambu Lasem. Sedangkan untuk jalur ibunya, Nyai Roihanah binti Muhammad Shiddiq ibn Abdullah ibn Shalih ibn Asra ibn Bardaâi ibn Syaikh Yusuf ibn Eyang Syambu Lasem. Baca juga⌠Mbah Syambu Lasem Cucu Joko Tingkir Ketika usai menunaikan ibadah haji bersama sang kakek Kiai Shiddiq, nama Abdul Muâthi diganti menjadi Abdul Hamid, yang kemudian hari dikenal dengan Haji Abdul Hamid, lalu dikenal dengan nama Kiai Hamid Pasuruan, sebab ia hijrah ke Pasuruan Jawa Timur. Nama Muâthi di kemudian hari diberikan kepada salah satu muridnya, ketika ia nyantri dan ikut berpartisipasi dalam mengajar di Pesantren Termas yang diasuh oleh Kiai Dimyathi, adik dari Syaikh Mahfudz al-Termasi, yaitu Mukti Ali yang aslinya bernama Bujono. Oleh Kiai Hamid, nama Bujono diganti menjadi Mukti, sedangkan nama Ali yang ada di belakangnya adalah nama ayahnya. Ia termasuk tokoh berpengaruh di Indonesia, yaitu pernah menjadi Menteri Agama Republik Indonesia. Rihlah Ilmiah Semasa kecilnya Abdul Muâthi dikenal sebagai anak yang nakal. Ia menjadi musuh bebuyutan China Lasem. Ia sangat tidak senang dengan orang China, sebab orang tuanya, Kiai Abdullah, suatu ketika kediamannya pernah diserang oleh orang China yang tidak suka dengannya. Namun, Allah melindungi hamba-Nya, sehingga serangan tersebut tidak membuahkan hasil kecuali beban malu yang ditanggung oleh orang China. Mereka menjadi takut dan mundur. Mereka berbeda dengan sebelumnya, ketika zaman Tumenggung Widyaningrat dan Ki sangat tidak suka dengan orang China. Masa kecilnya memang dikenal nakal jika dihadapkan dengan orang China. Ia pernah ngumpet di Kelenteng, tempat peribadatan orang China. Ketika orang China merayakan Cap Go Meh yang melintasi kediaman abahnya. Tindakan ini dinilai tidak sopan, sehingga ia meminta teman-temannya untuk melempari orang China tersebut dengan comberan air. Hal ini membuat orang China Lasem marah besar. Ia juga pernah memukul orang China, dan lain-lain. Karena dianggap nakal dan selalu membikin onar bagi orang China, maka ia diburu China Lasem untuk dikasih ganjaran. Ia merasa takut, sehingga akhirnya ia pergi ke tempat yang jauh, di kediaman kakeknya, Kiai Shiddiq yang ada di Jember. Ketika datang, ia langsung diajak oleh sang kakek menunaikan ibadah haji. Baca juga... Mbah Maâshum Lasem, Ulama Kharismatik Yang Terlupakan Berganti Nama Usai Menunaikan ibadah haji bersama kakeknya Kiai Shiddiq, Muâthi namanya diganti menjadi Abdul Hamid Haji Abdul Hamid. Diharapkan dengan ibadah haji dan mengganti nama ini, kenakalan Muâthi akan semakin berkurang, namun kenyataannya belum. Ketika ia melihat orang China yang merokok dengan congkak, maka ia tidak mau berfikir panjang, ia langsung menempeleng orang tersebut. Kasus ini membuat geger orang China, sehingga harus melibatkan pihak Hindia Belanda. Dari peristiwa ini, akhirnya Kiai Abdullah memerintahkan Abdul Hamid untuk mondok di Pesantren Termas yang diasuh oleh Kiai Dimyathi, adik dari Syaikh Mahfudz al-Termasi. Sebelum nyantri di Pesantren Termas, ia sempat dipondokkan abahnya di Pesantren Kasingan yang diasuh oleh Kiai Khalil ibn Harun, adik sekaligus murid dari Kiai Umar ibn Harun al-Sarani. Ketika mondok di Pesantren Termas, Abdul Hamid terbilang santri yang menonjol, sehingga ia dekat dengan pengasuhnya. Selama nyantri di pesantren ini, ia pernah dipercaya sebagai lurah pesantren. Di antara sahabat seperguruannya di Pesantren Termas adalah Kiai Ali Maksum dan Gus Hamid putra Kiai Dimyathi. Selama kurang lebih 12 tahun, ia mengeyam pendidikan di pesantren ini, sehingga keilmuannnya menjadi taâammuq mendalam. Selain belajar kepada Kiai Abdullah, Kiai Khalil Kasingan, dan Kiai Dimyathi, Abdul Hamid juga pernah belajar kepada Kiai Baidlowi al-Lasemi, Kiai Maâshum Ahmad, dan lain-lain. Ia sering tirakatan seperti menjalani puasa sunnah dan membaca amalan wirid tertentu sehingga membuatnya semakin dekat dengan Rab-nya. Ia menjadi hamba pilihan-Nya. Ia dikenal sebagai waliyullah yang kesuwur masyhur/ terkenal, bukan hanya di tanah Jawa, namun sampai ke luar Jawa. Salah satu waliyullah luar Jawa yang beristifadah dengannya adalah Abah Guru Sekumpul yang berasal dari Martapura. Membina Rumah Tangga Ketika Kiai Hamid masih nyantri di Pesantren Termas, ia sudah diincar oleh Kiai Ahmad Qusyairi untuk diambil menjadi menantunya. Mulanya, ia hendak dijodohkan dengan putrinya yang ketiga, Nyai Maryam, namun karena ia merasa belum siap untuk menikah dan masih ingin melanjutkan belajarnya, maka pernikahan itupun akhirnya tidak jadi. Baca juga... Menapak Jejak Kiai Hamid Baidhowi Lasem Kiai Ahmad Qusyairi sangat mengharapkan Kiai Hamid menjadi bagian keluarganya. Ia menemukan aura kelak Kiai Hamid akan menjadi seorang ulama yang berpengaruh. Karena sang putri yang ketiga sudah dinikahkan dengan Kiai Ahmad ibn Sahal, maka iapun dinikahkan dengan adiknya Nyai Maryam, yaitu Nyai Nafisah. Pernikahan tersebut berlangsung pada 12 September 1940 yang dihadiri oleh beberapa ulama Lasem, salah satunya adalah Kiai Maâshum pernikahan tersebut, Kiai Hamid dikaruniai enam anak, yaitu Muhammad Anas, Zainab, Muhammad Nuâman, Muhammad Nasih, Muhammad, dan Muhammad Idris. Semenjak Kiai Hamid menjadi menantu Kiai Ahmad Qusyairi, maka ia diminta sang mertua untuk bertempat tinggal di Pasuruan. Sang mertua ini juga asalnya orang Lasem, namun karena diambil menantu oleh ulama Pasuruan, yaitu Kiai Yasin, yang merupakan salah seorang ulama terpandang di Pasuruan, maka iapun hijrah ke tempat yang diminta oleh mertuanya. Saat awal-awal berumah tangga, Kiai Hamid sebagaimana kebanyakan orang, yang dirundung masalah ekonomi. Namun, dalam menyikapi masalah ini, ia begitu santai. Yang penting bagi manusia adalah berusaha, jangan sampai berpangku tangan, mengharapkan pemberian orang lain. Ia mulanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti berjualan sarung, kelapa, kedelai, dan bahkan pernah menjadi seorang broker sepeda. Sang Waliyullah Ketika pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan, Kiai Abdullah ibn Yasin wafat 1951 M, telah terjadi sebuah kesepakatan keluarga besar Pesantren Salafiyah untuk mengangkat Kiai Hamid sebagai guru besar pesantren dengan wadifahnya sebagai pengajar, sedangkan yang menjadi nadzir adalah Kiai Aqib. Namun, karena Kiai Aqib merasa masih muda bila dibandingkan dengan Kiai Hamid, maka akhirnya ia menyerahkan urusan pondok kepada Kiai Hamid, termasuk menjadi imam di Masjid Jamiâ. Dengan demikian, maka boleh dikata bahwa Kiai Hamid adalah pengasuh pesantren secara de facto. Baca juga⌠Al-Ghazali Al-Shaghir Dari Semarang Ketika Pesantren Salafiyah diasuh oleh Kiai Abdullah ibn Yasin, santri yang belajar dengannya hanya sedikit. Banyak yang tidak krasan mondok di sana, sebab Kiai Abdullah ini dikenal galak dan terlalu ketat. Ia mengharamkan memelihara rambut dan wiridannya panjang-panjang. Hal ini berbeda dengan Kiai Hamid yang dikenal halus dan lentur dalam menghadapi santri. Ia sangat bersabar dalam menghadapi sebuah masalah, termasuk jika ada santrinya yang nakal. Dengan sikapnya yang seperti ini, lama-kelamaan, banyak santri yang ingin beristifadah untuk mengaji kepadanya. Jumlahnya semakin membludak. Mulanya ketika masih awal-awal bertempat tinggal di Pasuruan, Kiai Hamid dikenal biasa-biasa saja. Mereka sering menyebutnya Haji Hamid. Namun, setelah berkiprah penuh di pesantren, dirinya semakin istiqamah dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah telah menunjukkan tanda-tanda kewaliannya meskipun ia sendiri dengan semaksimal mungkin berusaha untuk menutupinya. Sinarnya semakin terang dan memancar. Tanda Kewalian Tanda-tanda kewalian yang terpancar dalam diri Kiai Hamid dirasakan oleh Habib Jaâfar. Menjelang wafatnya Habib Jaâfar 1945 M, cahaya kewalian Kiai Hamid semakin memancar. Saat ia hendak bertamu di kediaman Habib Jaâfar, maka sang tuan rumah kelihatan sangat sibuk sekali, sehingga sang istri merasa keheranan karena biasanya Habib Jaâfar tidak sesibuk ini. Saat sudah sampai di kediamannya, Habib Jaâfar memberikan Kitab Ihyâ UlĂťmidin karya al-Ghazali disuruh untuk membacanya. Bukan itu saja, Habib Jaâfar juga menyuruhnya untuk menjadi imam Salat Maghrib dan hari, pancaran kewalian Kiai Hamid semakin ketara, sehingga terjadilah dalam dirinya sebuah karomah yang disaksikan oleh banyak orang. Ia mengetahui kejadian sebelum diketahui oleh kebanyakan orang. Dengan maziyah atau linuweh yang dimiliknya ini, maka tidak mengherankan jika kediamannya menjadi tempat berlabuh dari berbagai kalangan untuk mencari keberkahan. Menurut Kiai Maimoen Zubair bahwa Kiai Hamid bisa mencapai derajat tinggi, salah satu sebabnya adalah birrul walidainnya kepada kedua orang tuanya. Semua anggota keluarganya ia tata dengan begitu indahnya. Kembali ke Rahmatullah Kiai Hamid dikenal sebagai sosok yang sabar. Ketika ia terkena sebuah penyakit yang menimpa dirinya, ia berusaha untuk menyimpannya sendiri supaya tidak diketahui oleh orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Baca juga⌠Kyai Munawir Krapyak Ketika penyakit Kiai Hamid sudah semakin parah, akhirnya ia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat secara intens. Ketika dokter yang menanganinya melihat tidak ada harapan bagi kesembuhan Kiai Hamid, akhirnya ia menyarankan agar Kiai Hamid dibawa pulang ke Pasuruan. Sampai di rumah, kondisi kesehatan Kiai Hamid semakin mempritahatinkan. Waktu itu, Kiai Ahmad Shiddiq, sang paman ikut serta dalam menungguinya meminta kepada Nyai Nafisah agar mandi dan mengambil air wudu, kemudian memakai pakaian yang bagus sebagai isyarat bahwa ia sudah rela jika Kiai Hamid akan meninggalkannya. Usulan tersebut dilaksanakan Nyai Nafisah. Tidak lama kemudian, Kiai Hamid kembali ke Rahmatullah dengan menyebut asma-Nya, Allah, Allah, Allah. Kiai Hamid kembali ke Rahmatullah pada Sabtu dini hari tanggal 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M. Jasadnya dimakamkan di kompleks makam sebelah barat Masjid Jamiâ Al-Anwar Pasuruan. Pesarean ini diperuntukkan bagi kalangan kiai dan habaib, seperti makam guru beliau, Habib Jaâfar ibn Syaikhan Assegaf, Kiai Achmad Qusyairi, dan Kiai Achmad Ibn Sahal. Makam Kiai Hamid sampai sekarang ramai diziarahi orang yang berasal dari berbagai daerah. Semoga kita mendapatkan keluberan berkahnya. AmĂŽn yâ Rabbal AlamĂŽn. [] Oleh Amirul UlumReferensi Kebangkitan Ulama Rembang Sumbangsih untuk Nusantara & Dunia Islam karya Amirul Ulum
cucu kh abdul hamid pasuruan